Jumat, 06 Oktober 2023

Koneksi Antar Materi : TOPIK 1 MK Filosofi Pendidikan Indonesia

 Refleksi : Mengapa saya ingin menjadi guru?


Nama saya Nuril Azizah. Saya sebelumnya pernah menjadi guru di salah satu sekolah dasar di domisili saya. Kendati demikian, mengingat saya tidak pernah mengenyam pendidikan guru sehingga saya tidak pernah punya dasar kemampuan mengajar. Selama ini, penyelenggaraan kegiatan belajar yang saya laksanakan adalah berdasarkan pengalaman pribadi dan belajar secara otodidak kepada teman-teman guru di sekolah. Saya pernah berputus asa untuk menjadi guru karena banyaknya hal yang harus saya pelajari, mulai dari pembuatan RPP, media ajar, promes, prota dan lain sebagainya. Namun, saya akhirnya berkesempatan untuk menempuh program profesi guru prajabatan pada tahun 2023. Melalui kegiatan PPG ini ada banyak mata kuliah baru dan asing yang saya tempuh, salah satunya adalah mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia. 

Mata kuliah Filosofi Pendidikan adalah salah satu mata kuliah di PPG Prajabatan tahun 2023. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang membahas tentang filosofi pendidikan di Indonesia. Hal ini mencangkup bagaimana sudut pandang guru maupun murid terhadap penyelenggaraan pendidikan, khususnya di Indonesia. Dalam mata kuliah ini juga mencangkup pandangan filosofis pendidikan sejak zaman kolonialisme hingga hari ini. Banyak hal dan pengalaman baru yang saya dapatkan setelah menempuh mata kuliah ini, khususnya pada topik 1. 

Salah satu hal yang saya pelajari dari mata kuliah ini adalah saya mendapatkan sudut pandang baru mengenai motivasi saya menjadi seorang guru. Pada hari pertama perkuliahan, dosen meminta saya untuk bertanya pada diri sendiri “Mengapa saya disini? Apa yang saya inginkan dari kegiatan ini?”.  Saya tidak bisa menjawab. Saya hanya menjawab, “karena dukungan orang tua”. 


                                              

                                                    

Hari pertama kuliah, 18 September 2023. 18.30 Mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia

Pada pertemuan selanjutnya, saya mulai belajar tentang filosofi pendidikan Indonesia sejak zaman kolonialisme. Banyak sekali hal yang berbeda mengenai pendidikan kita, kebebasan belajar adalah hal yang sangat diimpikan oleh rakyat Indonesia. Namun hal ini menjadi hal sangat mahal dan hanya boleh diampu oleh para bangsawan dan priyayi. Hari ini, pendidikan sudah terbuka bagi setiap orang di Indonesia. Namun, praktik pendidikan yang terjadi di kelas masih banyak terbelenggu dengan sistem-sistem kolonialisme. Salah satunya adalah sistem intelektualis yang diturunkan dari Kolonialisme Belanda. Intelektualis adalah sistem pendidikan yang mengutamakan nilai untuk lulus ujian. Pada teks pidato KH Dewantara tertulis sebagai berikut 

“Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras dalam tuntutan-tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya; sebaliknya, mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam rapor sekolah-nya atau untuk dapat ijazah.”


Padahal sistem ini sangat tidak cocok dengan karakter budaya Bangsa Indonesia. Sistem pendidikan ini tidak mengajarkan budaya dan budi pekerti yang membuat kita semangat untuk belajar dengan tentram. 


Hal ini sangat mengusik saya, karena harus saya akui bahwa saya pun termasuk siswa yang pernah juga menganut sistem intelektualis ini selama masa sekolah dulu. Hal ini juga membuat sedih, karena jiwa intelektualis ini kadang masih saya berlakukan di kelas yang saya ampu. Dari pemahaman itu, akhirnya menjadi motivasi saya untuk belajar lebih banyak tentang hakikat mengajar yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Saya ingin menjadi guru yang baik, yang bisa menuntun siswa menemukan kodrat alamnya. 


Selain itu, melalui mata kuliah ini ada pengalaman luar biasa yang saya dapatkan. Salah satunya adalah kesempatan untuk berdiskusi dan bertukar pandangan dengan calon-calon guru lainnya. Ada satu hal yang saya ingat sampai hari ini adalah sudut pandang dari teman saya mengenai guru. “Guru adalah pekerjaan yang melahirkan pekerjaan lainnya”  dan “Guru adalah pekerjaan yang menciptakan diri manusia” . Serta banyak pendapat-pendapat menarik lainnya. Bertukar pikiran ini adalah salah satu hal luar biasa bagi saya. 


Setelah mempelajari mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia, khususnya topik satu mengenai perjalanan pendidikan di Indonesia. Singkatnya saya menjadi belajar mengenai kodrat alam dan kodrat zaman. Seorang guru harus mampu menuntun siswa untuk belajar sesuai kodrat alamnya (potensi masing-masing) dan kodrat zaman (pada zaman ini adalah teknologi). Jika nanti saya menjadi guru, saya ingin berusaha sebaik mungkin untuk menerapkan hal ini. Dengan demikian, banyak hal yang masih harus saya pelajar dan melatih diri saya untuk menjadi guru yang sesuai dengan cita-cita pendidikan Indonesia.

Oleh : Nuril Azizah, S.Si.

         Penempuh mata kuliah filosofi pendidikan PPG Prajabatan Program studi IPA Gelombang 1, tahun 2023.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK DALAM PEMENUHAN TARGET KURIKULUM MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK DALAM PEMENUHAN TARGET KURIKULUM MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh : Nuril Azizah Pendidikan merupakan se...