KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK DALAM PEMENUHAN TARGET KURIKULUM MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Oleh : Nuril Azizah
Pendidikan merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia, khususnya pada generasi muda (Pelangi, 2020). Melalui pendidikan, guru menjadi fasilitator atau pendidik bagi semua peserta didik agar dapat menempuh pendidikan dengan baik. Guru sebagai pendidik, perlu untuk memberikan pembelajaran yang dapat membantu peserta didik menjadi pembelajar yang sejati. Peserta didik di kelas dapat sangat beraneka ragam. Keragaman peserta didik di kelas dapat meliputi keragaman karakter, latar belakang, kemampuan daya serap belajar, kemampuan komunikasi, gaya belajar dan bakat minat (Ahmad, 2010).
Guru harus dapat merangkul semua peserta didik dengan berbagai macam keragaman yang dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknik dan strategi pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mana guru memberikan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik dengan mengakomodasi perbedaan individual diantara peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi bertujuan untuk memastikan setiap peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhannya sehingga dapat mengasah potensi mereka dengan maksimal (Ambarita & Adab, 2023). Fokus perhatian dalam pembelajaran berdiferensiasi adalah kepedulian pada peserta didik dalam memperhatikan kebutuhan dan kekuatan peserta didik serta bagaimana peserta didik belajar, perbedaan preferensi belajar dan minat individu. Diferensiasi menyiratkan bahwa tujuan sekolah harus memaksimalkan kemampuan semua peserta didik (Wahyuningsari, 2022).
Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa aspek yang berbeda. Diantaranya adalah aspek konten, proses dan produk. Pada pembelajaran aspek konten, maka guru memberikan konten pembelajaran yang berbeda antara peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dengan aspek konten dapat dilakukan dengan berdasar pada kesiapan belajar peserta didik, minat belajar, dan profil belajar atau modalitas gaya belajar. Guru dapat memberikan pembelajaran dengan satu tema besar dalam satu kelas yang kemudian dipecah menjadi tema-tema kecil sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Wahyuningsari, 2022).
Pembelajaran berdiferensiasi proses adalah pembelajaran yang mana guru memberikan proses belajar yang berbeda-beda antar peserta didik. Hal ini berkaitan dengan bagaimana peserta didik dapat belajar dan memahami konten pembelajaran yang diberikan guru. Hal ini juga dapat didasarkan pada kesiapan belajar maupun modalitas gaya belajar. Guru dapat memberikan pembelajaran dengan gambar atau video pada peserta didik dengan gaya belajar visual. Sedangkan pada peserta didik dengan gaya belajar auditori, guru dapat meminta peserta didik belajar melalui penjelasan atau podcast. Pada peserta didik dengan gaya belajar kinestetik peserta didik dapat belajar melalui kegiatan yang melibatkan aktivitas motorik, seperti praktikum atau bermain peran. Metode belajar juga harus disesuaikan dengan materi ajar atau konten yang akan dipelajari oleh peserta didik (Astiti, 2021).
Pembelajaran berdiferensiasi produk adalah pembelajaran yang mana guru memberikan pilihan yang bervariasi pada peserta didik dalam cara mereka mengekspresikan pemahaman mereka dari materi yang sudah dipelajari. Peserta didik dapat membuat karya hasil belajar baik dalam bentuk tulisan, gambar, video, poster atau demonstrasi langsung. Hal ini disesuaikan dengan karakter, minat dan kemampuan dasar peserta didik. Hal ini dapat membantu peserta didik untuk memaksimalkan potensi diri yang melekat pada peserta didik (Gusteti & Neviyarni, 2022).
Pembelajaran berdiferensiasi sudah banyak dilakukan seiring dengan diberlakukannya kurikulum merdeka. Berbagai macam pelatihan guru telah banyak dilakukan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Namun demikian, tidak sedikit guru yang masih mengalami kesulitan untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi seringkali membutuhkan waktu lama dalam prosesnya. Selain itu, pembelajaran berdiferensiasi dapat berlangsung lambat dalam pencapaian materi. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi memerlukan persiapan tambahan. Guru perlu merencanakan dan menyiapkan berbagai macam materi, penugasan, dan aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan individual siswa. Hal ini membutuhkan waktu tambahan yang signifikan, terutama pada awalnya. Selain itu, pembelajaran berdiferensiasi juga membutuhkan pengelolaan kelas yang baik oleh guru. Pengelolaan kelas dengan berbagai tingkat kemampuan, minat, dan gaya belajar bisa menjadi tantangan. Kesulitankesulitan tersebut dapat membuat pembelajaran dapat berlangsung lambat (Made, 2022). Pada saat yang sama, semua anak harus didik dengan baik sebagai dorongan untuk standar kurikulum yang lebih ketat. Standar ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa anak-anak saat ini siap menghadapi dunia masa depan.
Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah standar yang digunakan dalam pengembangan kurikulum di Indonesia. SNP memberikan pedoman dan standar yang harus dipenuhi oleh kurikulum di semua jenjang pendidikan. Kurikulum harus disesuaikan dengan tujuan, kompetensi, dan nilai yang diatur dalam SNP. SNP yang berlaku di seluruh wilayah NKRI mencakup 8 aspek, yaitu standar standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pembiayaan, standar tenaga kependidikan, standar pengelolaan dan standar sarana dan prasarana. Standar kompetensi lulusan adalah kriteria minimal yang menetapkan kemampuan, sikap, dan pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh peserta didik pada akhir jenjang pendidikan tertentu. Standar kompetensi lulusan ini mencakup aspek-aspek seperti keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang perlu dimiliki oleh peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran yang telah dilalui. Standar kompetensi lulusan biasanya dirumuskan berdasarkan tujuan pendidikan nasional dan kebutuhan masyarakat, serta memperhatikan perkembangan global dan perkembangan teknologi. Standar ini menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum, penyusunan materi pembelajaran, dan penilaian capaian peserta didik serta tujuan pembelajaran.
Penentuan tujuan pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta didik. Hal ini adalah hal yang sangat baik karena guru tidak harus mengikuti alur tujuan pembelajaran yang ditentukan oleh pemerintah pusat. Melalui hal ini guru dapat menyusun pembelajaran yang paling sesuai dengan karakter dan kebutuhan peserta didik. Namun demikian, walaupun pembelajaran pada kurikulum merdeka sudah dibebaskan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sekolah masih menetapkan standar kompetensi yang harus dimiliki peserta didik pada setiap tingkatnya sesuai yang telah diatur di kurikulum mengacu pada SNP kompetensi kelulusan(Mukhlisin et al., 2024). Pemenuhan SNP kelulusan harus dicapai pada akhir jenjang pendidikan peserta didik di setiap tingkat tertentu. Sebagai upaya pemenuhan standar tersebut, tidak jarang bahwa pembelajaran harus berlangsung cepat dan dinamis mengingat banyaknya konten materi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Pada saat yang sama, guru juga digalakkan untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi untuk memfasilitasi kebutuhan semua peserta didik secara individual. Seperti yang telah diuraikan diatas, pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi keragaman semua peserta didik di kelas seringkali membutuhkan waktu yang lama dalam hal persiapan dan proses pembelajaran sehingga pembelajaran terkesan berjalan dengan lambat. Hal ini memang dikhawatirkan akan memperlambat atau menghambat pencapaian SNP kompetensi kelulusan sehingga membuat para guru cenderung tidak melakukan pembelajaran berdiferensiasi (Mukhlisin et al., 2024).
Pembelajaran berdiferensiasi memang membutuhkan waktu yang lebih lama dalam persiapan dan proses pembelajaran sehingga dapat memperlambat proses pembelajaran. Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi dapat memberikan manfaat dalam jangka waktu yang lebih panjang dengang mengasah potensi yang dimiliki peserta didik. Guru tetap perlu mengakomodasi kebutuhan dan keberagaman peserta didik di kelas dengan tetap memperhatikan standar kompetensi kelulusan yang harus dimiliki oleh peserta didik. Standar ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa anak-anak saat ini siap menghadapi dunia masa depan.
Daftar Referensi
Ahmad, R. (2010). Memaknai dan mengembangkan keberagaman peserta didik melalui pendidikan inklusif. Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 10(2), 70-75.
Ambarita, J., SIMANULLANG,S., & Adab, P. (2023). Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi. Penerbit Adab.
Astiti, K. A., Supu, A., Sukarjita, I. W., & Lantik, V. (2021). Pengembangan bahan ajar ipa terpadu tipe connected berbasis pembelajaran berdiferensiasi pada materi lapisan bumi kelas vii. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Sains Indonesia (JPPSI), 4(2), 112-120.
Gusteti, M. U., & Neviyarni, N. (2022). Pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran matematika di kurikulum merdeka. Jurnal Lebesgue: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, Matematika Dan Statistika, 3(3), 636-646.
Made, R. K. N. (2022). Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Model Vak Dengan Multimoda Untuk Meningkatkan Minat Dan Prestasi Belajar Siswa. Majalah Ilmiah Universitas Tabanan, 19(1), 55-60.
Mukhlisin, A., Hartinah, S., & Sudibyo, H. (2024). Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Kurikulum Merdeka. Journal of Education Research, 5(1), 545-553.
Pelangi, G. (2020). Pemanfaatan Aplikasi Canva Sebagai Media Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Jenjang SMA/MA. Jurnal Sasindo Unpam. 8(2): 1–18.
Wahyuningsari, D., Mujiwati, Y., Hilmiyah, L., Kusumawardani, F., & Sari, I. P. (2022). Pembelajaran berdiferensiasi dalam rangka mewujudkan merdeka belajar. Jurnal jendela pendidikan, 2(04), 529-53





