Sabtu, 14 Oktober 2023

PPL

 

Hello. I am now starting my very first PPL in my life. I didn't even know what PPL is. I just follow the flow and what my friends do. Tbh, I am feeling inferior bcs I don't know a lot of things about it. Yesterday I was even thinking to quit, questioning myself wether I am doing the right things or not, wether I am in the right track or not, or is it I am crossing the line too far?

Is it what I really want to do in my life? Idk. I dont understand. But just let get started.

So in this PPL, I'll be doing some activities that I have never known before. The first thing I will do is orientation. It is kind of introduction of the shool, I mean I strat to get to know all about the school. However, the process is not always that nice. We had some little argumentation in our goup. But, that's okay. All is fine now.

Afterwards, I will be doing the second main activities, Observation. There are a lot to observe. The academic and non-academic area should be observed. My group is consisted of 5 people. We all are obligated to observe how the local teacher teach their students. Later on, we reflect from that observation what can be improve and what to imitate. Not gonna lie, I am kind of enjoying this process, even though this is lil bit hard to me. But I am still exciting to see how the local teacher of this great school teach their student. Let's see what's gonna happen next. 

See you

Minggu, 08 Oktober 2023

AKSI NYATA : PERSPEKTIF SOSIO KULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA TOPIK 1



Bagaimana perbedaan sosio-kultural masyarakat Indonesia dapat mempengaruhi realisasi kurikulum di negara ini?

Oleh : Nuril Azizah



Perspektif Sosio Kultural dalam Pendidikan Indonesia adalah salah satu mata kuliah yang saya tempuh dalam PPG Prajabatan tahun 2023, khususnya pada semester satu ini. Pada awal masuk mata kuliah ini saya sangat tertarik, bahkan mata kuliah ini adalah satu-satunya dari semua mata kuliah yang saya tempuh yang berhasil menarik minat saya bahkan sebelum saya mulai mendalaminya. Dari kata Sosiokultural, saya menebak bahwa saya akan diajak berkeliling Indonesia melalui perspektif pendidikan. Saya akan diajak untuk mendalami kisah-kisah penyelenggaraan pendidikan baik  di pelosok-pelosok negeri ataupun di kota-kota besar. Hal ini yang membuat saya sangat tertarik, karena saya dapat berkeliling Indonesia tanpa lelah payah. 

Indonesia merupakan negara dengan ratusan suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Perbedaan suku ini tentunya akan menyebabkan perbedaan sosial budaya setempat. Perbedaan sosial budaya ini akan membentuk karakter manusia yang berbeda. Selain itu, faktor lain yang tak kalah penting adalah ekonomi dan politik. Ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap realisasi pendidikan seorang siswa. Walaupun di Indonesia sudah digencarkan “Wajib Sekolah 12 Tahun”, namun tak jarang ditemukan siswa putus sekolah karena harus membantu orang tua bekerja. Di sisi lain, politik juga sangat mempengaruhi pendidikan. Seperti kata-kata dalam pidato KH Dewantara bahwa pendidikan adalah “sawah”, sedangkan politik adalah “pagar”. Pagar sangat diperlukan agar sawah dapat digarap dengan tentram dan terhindar dari segala ancaman. Hal ini dimaksudkan penyelenggaraan pendidikan akan diatur oleh sistem politik yang ada di Indonesia melalui kebijakan-kebijakan menteri pendidikan. Dengan demikian mempelajari sosio kultural masyarakat setempat adalah salah satu hal krusial yang akan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan sistem pendidikan di sekolah. Melalui mata kuliah ini, saya mempelajari bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, bahkan walaupun terdapat siswa dari suku dan daerah yang sama, masih memungkinkan terjadinya perbedaan karakter, terutama siswa yang berasal dari suku dan latar belakang ekonomi yang berbeda akan memiliki perbedaan karakter yang sangat kentara. Perbedaan ini bukan lantas menjadi bumerang untuk berpilih kasih dalam mengajar, namun sebagai seorang guru saya harus dapat menempatkan diri saya untuk dapat mengajar sesuai karakter-karakter siswa. 

Pemahaman tentang mata kuliah Perspektif Sosio Kultural dalam Pendidikan Indonesia dilanjutkan dengan kolaborasi bersama rekan-rekan di kelas. Kolaborasi ini dilakukan dengan mendiskusikan lima video yang berisikan tentang kisah-kisah pengajar di pelosok negeri. Setiap daerah pelosok memiliki cara penyelenggaraan pendidikan yang berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan karena setiap masyarakat di daerah yang berbeda memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan karakter ini disebabkan karena adanya perbedaan faktor ekonomi, politik dan sosial budaya daerah setempat. Suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di suatu wilayah dapat dilakukan dengan sangat baik di suatu daerah, namun belum tentu baik jika diterapkan di daerah lain.

Hasil kolaborasi saya bersama rekan-rekan kemudian dibandingkan dengan hasil kolaborasi kelompok lain melalui kegiatan presentasi dan diskusi. Berdasarkan hasil presentasi oleh kelompok lain, saya mempelajari hal yang cukup menarik. Saya mendapati  perspektif yang berbeda dari kelompok lain mengenai satu hal yang sama. Hal ini cukup menarik karena saya dapat menerapkan pemahaman mengenai bagaimana perbedaan latar belakang kami mempengaruhi perbedaan perspektif kami mengenai satu tugas yang sama. Namun demikian, perbedaan pendapat kami ini tidak terlalu kentara, mengingat kami mungkin memiliki latar belakang sosial budaya dan politik yang sama karena kami berasal dari suku dan daerah yang relatif sama. 

Setelah mempelajari topik ini saya jadi semakin paham bahwa perbedaan pendapat bukanlah hal yang selalu perlu diperdebatkan. Saya mungkin dapat memandang pendapat saya adalah pendapat terbaik yang bisa saya berikan setelah memikirkannya matang-matang. Namun, setelah melalui proses diskusi saya mendapatkan lebih banyak pendapat-pendapat baik lainnya. 

Selama mempelajari topik ini, saya mempelajari cukup banyak hal. Salah satu hal yang paling menarik adalah tentang bagaimana perbedaan faktor-faktor ekonomi, sosial budaya dan politik dapat mempengaruhi karakter setiap siswa. Perbedaan karakter ini kemudian perlu mendapatkan cara pembelajaran yang berbeda. Dalam hal ini saya tidak bisa menuntut semua siswa di kelas untuk belajar dengan satu cara dan mengharapkan semua siswa paham secara utuh dan bersamaan. 

Saya pernah mengajar di salah satu SD di kota asal saya. Dahulu, saya sering merasa frustasi dan berkecil hati jika ada beberapa siswa yang tak kunjung paham dengan materi yang saya berikan. Saya pernah berpikir bahwa semua siswa harus duduk diam dan mendengarkan penjelasan saya dengan baik. Lebih-lebih  saya berharap semua siswa memahami semua materi yang saya ajarkan. Padahal setiap siswa memiliki cara belajarnya masing-masing dan saya tidak harus selalu membuat mereka belajar dengan cara yang saya mau. Hal ini karena perbedaan karakter belajar setiap siswa dipengaruhi oleh hal-hal mendasar yang sudah ada pada dirinya sejak kecil di keluarga masing-masing. 


Berdasarkan hal ini, saya jadi bertanya-tanya apakah jika saya memiliki 20 siswa di kelas dengan karakter belajar yang berbeda-beda lantas saya harus menyesuaikan dengan karakter siswa tersebut? Apakah penyesuaian sistem belajar dengan karakter sosio kultural masing-masing memiliki efektifitas yang cukup untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan silabus yang tersedia di kurikulum?

Saya mencoba untuk menghubungkan pemahaman saya dari mata kuliah Perspektif Sosio Kultural ini dengan beberapa mata kuliah lain di PPG Prajabatan semester satu ini. Materi yang ada di mata kuliah ini sangat erat hubungannya dengan materi yang saya pelajari di mata kuliah lain. Sebagai contoh, latar belakang yang berbeda pada setiap siswa dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik sosial dan budaya menyebabkan perbedaan karakter siswa. Setiap karakter siswa kemudian membutuhkan cara belajar yang berbeda-beda. Hal ini meliputi metode, model, teknik, strategi serta media belajar yang disesuaikan dengan karakter siswa. Hal ini saya pelajari di mata kuliah Pemahaman Peserta didik dan Pembelajarannya. Setelah saya mencoba untuk mengkoneksikan dengan mata kuliah lainnya, saya dapat mengambil benang merah dari topik 1 ini. Hal tersebut adalah karakter siswa. Karakter siswa adalah salah satu hal krusial yang menentukan keberhasilan pembelajaran. Karakter siswa membuat siswa membutuhkan cara pengajaran, alat psikologis, mediasi, literasi dan asesmen yang berbeda-berbeda. Karakter siswa ini dapat berbeda berdasarkan perbedaan latar belakang masing-masing siswa. 

Gambar 1. Koneksi antar materi mata kuliah Perspektif Sosio Kultural dengan mata kuliah PPG lainnya

Semua mata kuliah di PPG Prajabatan ini, khususnya di mata kuliah Perspektif Sosio Kultural ini telah sangat membantu saya untuk mempersiapkan diri menjadi guru yang baik. Pemahaman tentang perbedaan karakter siswa membuat saya harus lebih kreatif dan dalam membuat pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa. Namun demikian, saya belum sepenuhnya siap. Jika saya menilai diri saya secara pribadi, saat ini kesiapan saya baru mencapai angka 4 dari 10. Hal ini karena saya perlu mencoba menerapkan teori yang saya pelajari di kelas secara nyata di kelas kepada siswa-siswa.  Saya masih perlu banyak membaca teori pendidikan lainnya serta berlatih praktik mengajar lebih banyak lagi. Maka dari itu, hal-hal yang perlu saya siapkan adalah lebih banyak belajar mengenai konsep-konsep teori pendidikan serta berdiskusi dengan rekan. Selain itu, hal yang sangat penting adalah berlatih mengajar kepada siswa secara langsung untuk menerapkan hal-hal yang sudah saya pelajar di kelas. 


Jumat, 06 Oktober 2023

Koneksi Antar Materi : TOPIK 1 MK Filosofi Pendidikan Indonesia

 Refleksi : Mengapa saya ingin menjadi guru?


Nama saya Nuril Azizah. Saya sebelumnya pernah menjadi guru di salah satu sekolah dasar di domisili saya. Kendati demikian, mengingat saya tidak pernah mengenyam pendidikan guru sehingga saya tidak pernah punya dasar kemampuan mengajar. Selama ini, penyelenggaraan kegiatan belajar yang saya laksanakan adalah berdasarkan pengalaman pribadi dan belajar secara otodidak kepada teman-teman guru di sekolah. Saya pernah berputus asa untuk menjadi guru karena banyaknya hal yang harus saya pelajari, mulai dari pembuatan RPP, media ajar, promes, prota dan lain sebagainya. Namun, saya akhirnya berkesempatan untuk menempuh program profesi guru prajabatan pada tahun 2023. Melalui kegiatan PPG ini ada banyak mata kuliah baru dan asing yang saya tempuh, salah satunya adalah mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia. 

Mata kuliah Filosofi Pendidikan adalah salah satu mata kuliah di PPG Prajabatan tahun 2023. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang membahas tentang filosofi pendidikan di Indonesia. Hal ini mencangkup bagaimana sudut pandang guru maupun murid terhadap penyelenggaraan pendidikan, khususnya di Indonesia. Dalam mata kuliah ini juga mencangkup pandangan filosofis pendidikan sejak zaman kolonialisme hingga hari ini. Banyak hal dan pengalaman baru yang saya dapatkan setelah menempuh mata kuliah ini, khususnya pada topik 1. 

Salah satu hal yang saya pelajari dari mata kuliah ini adalah saya mendapatkan sudut pandang baru mengenai motivasi saya menjadi seorang guru. Pada hari pertama perkuliahan, dosen meminta saya untuk bertanya pada diri sendiri “Mengapa saya disini? Apa yang saya inginkan dari kegiatan ini?”.  Saya tidak bisa menjawab. Saya hanya menjawab, “karena dukungan orang tua”. 


                                              

                                                    

Hari pertama kuliah, 18 September 2023. 18.30 Mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia

Pada pertemuan selanjutnya, saya mulai belajar tentang filosofi pendidikan Indonesia sejak zaman kolonialisme. Banyak sekali hal yang berbeda mengenai pendidikan kita, kebebasan belajar adalah hal yang sangat diimpikan oleh rakyat Indonesia. Namun hal ini menjadi hal sangat mahal dan hanya boleh diampu oleh para bangsawan dan priyayi. Hari ini, pendidikan sudah terbuka bagi setiap orang di Indonesia. Namun, praktik pendidikan yang terjadi di kelas masih banyak terbelenggu dengan sistem-sistem kolonialisme. Salah satunya adalah sistem intelektualis yang diturunkan dari Kolonialisme Belanda. Intelektualis adalah sistem pendidikan yang mengutamakan nilai untuk lulus ujian. Pada teks pidato KH Dewantara tertulis sebagai berikut 

“Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras dalam tuntutan-tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya; sebaliknya, mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam rapor sekolah-nya atau untuk dapat ijazah.”


Padahal sistem ini sangat tidak cocok dengan karakter budaya Bangsa Indonesia. Sistem pendidikan ini tidak mengajarkan budaya dan budi pekerti yang membuat kita semangat untuk belajar dengan tentram. 


Hal ini sangat mengusik saya, karena harus saya akui bahwa saya pun termasuk siswa yang pernah juga menganut sistem intelektualis ini selama masa sekolah dulu. Hal ini juga membuat sedih, karena jiwa intelektualis ini kadang masih saya berlakukan di kelas yang saya ampu. Dari pemahaman itu, akhirnya menjadi motivasi saya untuk belajar lebih banyak tentang hakikat mengajar yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Saya ingin menjadi guru yang baik, yang bisa menuntun siswa menemukan kodrat alamnya. 


Selain itu, melalui mata kuliah ini ada pengalaman luar biasa yang saya dapatkan. Salah satunya adalah kesempatan untuk berdiskusi dan bertukar pandangan dengan calon-calon guru lainnya. Ada satu hal yang saya ingat sampai hari ini adalah sudut pandang dari teman saya mengenai guru. “Guru adalah pekerjaan yang melahirkan pekerjaan lainnya”  dan “Guru adalah pekerjaan yang menciptakan diri manusia” . Serta banyak pendapat-pendapat menarik lainnya. Bertukar pikiran ini adalah salah satu hal luar biasa bagi saya. 


Setelah mempelajari mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia, khususnya topik satu mengenai perjalanan pendidikan di Indonesia. Singkatnya saya menjadi belajar mengenai kodrat alam dan kodrat zaman. Seorang guru harus mampu menuntun siswa untuk belajar sesuai kodrat alamnya (potensi masing-masing) dan kodrat zaman (pada zaman ini adalah teknologi). Jika nanti saya menjadi guru, saya ingin berusaha sebaik mungkin untuk menerapkan hal ini. Dengan demikian, banyak hal yang masih harus saya pelajar dan melatih diri saya untuk menjadi guru yang sesuai dengan cita-cita pendidikan Indonesia.

Oleh : Nuril Azizah, S.Si.

         Penempuh mata kuliah filosofi pendidikan PPG Prajabatan Program studi IPA Gelombang 1, tahun 2023.


KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK DALAM PEMENUHAN TARGET KURIKULUM MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK DALAM PEMENUHAN TARGET KURIKULUM MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh : Nuril Azizah Pendidikan merupakan se...