Sabtu, 14 Oktober 2023

PPL

 

Hello. I am now starting my very first PPL in my life. I didn't even know what PPL is. I just follow the flow and what my friends do. Tbh, I am feeling inferior bcs I don't know a lot of things about it. Yesterday I was even thinking to quit, questioning myself wether I am doing the right things or not, wether I am in the right track or not, or is it I am crossing the line too far?

Is it what I really want to do in my life? Idk. I dont understand. But just let get started.

So in this PPL, I'll be doing some activities that I have never known before. The first thing I will do is orientation. It is kind of introduction of the shool, I mean I strat to get to know all about the school. However, the process is not always that nice. We had some little argumentation in our goup. But, that's okay. All is fine now.

Afterwards, I will be doing the second main activities, Observation. There are a lot to observe. The academic and non-academic area should be observed. My group is consisted of 5 people. We all are obligated to observe how the local teacher teach their students. Later on, we reflect from that observation what can be improve and what to imitate. Not gonna lie, I am kind of enjoying this process, even though this is lil bit hard to me. But I am still exciting to see how the local teacher of this great school teach their student. Let's see what's gonna happen next. 

See you

Minggu, 08 Oktober 2023

AKSI NYATA : PERSPEKTIF SOSIO KULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA TOPIK 1



Bagaimana perbedaan sosio-kultural masyarakat Indonesia dapat mempengaruhi realisasi kurikulum di negara ini?

Oleh : Nuril Azizah



Perspektif Sosio Kultural dalam Pendidikan Indonesia adalah salah satu mata kuliah yang saya tempuh dalam PPG Prajabatan tahun 2023, khususnya pada semester satu ini. Pada awal masuk mata kuliah ini saya sangat tertarik, bahkan mata kuliah ini adalah satu-satunya dari semua mata kuliah yang saya tempuh yang berhasil menarik minat saya bahkan sebelum saya mulai mendalaminya. Dari kata Sosiokultural, saya menebak bahwa saya akan diajak berkeliling Indonesia melalui perspektif pendidikan. Saya akan diajak untuk mendalami kisah-kisah penyelenggaraan pendidikan baik  di pelosok-pelosok negeri ataupun di kota-kota besar. Hal ini yang membuat saya sangat tertarik, karena saya dapat berkeliling Indonesia tanpa lelah payah. 

Indonesia merupakan negara dengan ratusan suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Perbedaan suku ini tentunya akan menyebabkan perbedaan sosial budaya setempat. Perbedaan sosial budaya ini akan membentuk karakter manusia yang berbeda. Selain itu, faktor lain yang tak kalah penting adalah ekonomi dan politik. Ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap realisasi pendidikan seorang siswa. Walaupun di Indonesia sudah digencarkan “Wajib Sekolah 12 Tahun”, namun tak jarang ditemukan siswa putus sekolah karena harus membantu orang tua bekerja. Di sisi lain, politik juga sangat mempengaruhi pendidikan. Seperti kata-kata dalam pidato KH Dewantara bahwa pendidikan adalah “sawah”, sedangkan politik adalah “pagar”. Pagar sangat diperlukan agar sawah dapat digarap dengan tentram dan terhindar dari segala ancaman. Hal ini dimaksudkan penyelenggaraan pendidikan akan diatur oleh sistem politik yang ada di Indonesia melalui kebijakan-kebijakan menteri pendidikan. Dengan demikian mempelajari sosio kultural masyarakat setempat adalah salah satu hal krusial yang akan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan sistem pendidikan di sekolah. Melalui mata kuliah ini, saya mempelajari bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, bahkan walaupun terdapat siswa dari suku dan daerah yang sama, masih memungkinkan terjadinya perbedaan karakter, terutama siswa yang berasal dari suku dan latar belakang ekonomi yang berbeda akan memiliki perbedaan karakter yang sangat kentara. Perbedaan ini bukan lantas menjadi bumerang untuk berpilih kasih dalam mengajar, namun sebagai seorang guru saya harus dapat menempatkan diri saya untuk dapat mengajar sesuai karakter-karakter siswa. 

Pemahaman tentang mata kuliah Perspektif Sosio Kultural dalam Pendidikan Indonesia dilanjutkan dengan kolaborasi bersama rekan-rekan di kelas. Kolaborasi ini dilakukan dengan mendiskusikan lima video yang berisikan tentang kisah-kisah pengajar di pelosok negeri. Setiap daerah pelosok memiliki cara penyelenggaraan pendidikan yang berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan karena setiap masyarakat di daerah yang berbeda memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan karakter ini disebabkan karena adanya perbedaan faktor ekonomi, politik dan sosial budaya daerah setempat. Suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di suatu wilayah dapat dilakukan dengan sangat baik di suatu daerah, namun belum tentu baik jika diterapkan di daerah lain.

Hasil kolaborasi saya bersama rekan-rekan kemudian dibandingkan dengan hasil kolaborasi kelompok lain melalui kegiatan presentasi dan diskusi. Berdasarkan hasil presentasi oleh kelompok lain, saya mempelajari hal yang cukup menarik. Saya mendapati  perspektif yang berbeda dari kelompok lain mengenai satu hal yang sama. Hal ini cukup menarik karena saya dapat menerapkan pemahaman mengenai bagaimana perbedaan latar belakang kami mempengaruhi perbedaan perspektif kami mengenai satu tugas yang sama. Namun demikian, perbedaan pendapat kami ini tidak terlalu kentara, mengingat kami mungkin memiliki latar belakang sosial budaya dan politik yang sama karena kami berasal dari suku dan daerah yang relatif sama. 

Setelah mempelajari topik ini saya jadi semakin paham bahwa perbedaan pendapat bukanlah hal yang selalu perlu diperdebatkan. Saya mungkin dapat memandang pendapat saya adalah pendapat terbaik yang bisa saya berikan setelah memikirkannya matang-matang. Namun, setelah melalui proses diskusi saya mendapatkan lebih banyak pendapat-pendapat baik lainnya. 

Selama mempelajari topik ini, saya mempelajari cukup banyak hal. Salah satu hal yang paling menarik adalah tentang bagaimana perbedaan faktor-faktor ekonomi, sosial budaya dan politik dapat mempengaruhi karakter setiap siswa. Perbedaan karakter ini kemudian perlu mendapatkan cara pembelajaran yang berbeda. Dalam hal ini saya tidak bisa menuntut semua siswa di kelas untuk belajar dengan satu cara dan mengharapkan semua siswa paham secara utuh dan bersamaan. 

Saya pernah mengajar di salah satu SD di kota asal saya. Dahulu, saya sering merasa frustasi dan berkecil hati jika ada beberapa siswa yang tak kunjung paham dengan materi yang saya berikan. Saya pernah berpikir bahwa semua siswa harus duduk diam dan mendengarkan penjelasan saya dengan baik. Lebih-lebih  saya berharap semua siswa memahami semua materi yang saya ajarkan. Padahal setiap siswa memiliki cara belajarnya masing-masing dan saya tidak harus selalu membuat mereka belajar dengan cara yang saya mau. Hal ini karena perbedaan karakter belajar setiap siswa dipengaruhi oleh hal-hal mendasar yang sudah ada pada dirinya sejak kecil di keluarga masing-masing. 


Berdasarkan hal ini, saya jadi bertanya-tanya apakah jika saya memiliki 20 siswa di kelas dengan karakter belajar yang berbeda-beda lantas saya harus menyesuaikan dengan karakter siswa tersebut? Apakah penyesuaian sistem belajar dengan karakter sosio kultural masing-masing memiliki efektifitas yang cukup untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan silabus yang tersedia di kurikulum?

Saya mencoba untuk menghubungkan pemahaman saya dari mata kuliah Perspektif Sosio Kultural ini dengan beberapa mata kuliah lain di PPG Prajabatan semester satu ini. Materi yang ada di mata kuliah ini sangat erat hubungannya dengan materi yang saya pelajari di mata kuliah lain. Sebagai contoh, latar belakang yang berbeda pada setiap siswa dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik sosial dan budaya menyebabkan perbedaan karakter siswa. Setiap karakter siswa kemudian membutuhkan cara belajar yang berbeda-beda. Hal ini meliputi metode, model, teknik, strategi serta media belajar yang disesuaikan dengan karakter siswa. Hal ini saya pelajari di mata kuliah Pemahaman Peserta didik dan Pembelajarannya. Setelah saya mencoba untuk mengkoneksikan dengan mata kuliah lainnya, saya dapat mengambil benang merah dari topik 1 ini. Hal tersebut adalah karakter siswa. Karakter siswa adalah salah satu hal krusial yang menentukan keberhasilan pembelajaran. Karakter siswa membuat siswa membutuhkan cara pengajaran, alat psikologis, mediasi, literasi dan asesmen yang berbeda-berbeda. Karakter siswa ini dapat berbeda berdasarkan perbedaan latar belakang masing-masing siswa. 

Gambar 1. Koneksi antar materi mata kuliah Perspektif Sosio Kultural dengan mata kuliah PPG lainnya

Semua mata kuliah di PPG Prajabatan ini, khususnya di mata kuliah Perspektif Sosio Kultural ini telah sangat membantu saya untuk mempersiapkan diri menjadi guru yang baik. Pemahaman tentang perbedaan karakter siswa membuat saya harus lebih kreatif dan dalam membuat pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa. Namun demikian, saya belum sepenuhnya siap. Jika saya menilai diri saya secara pribadi, saat ini kesiapan saya baru mencapai angka 4 dari 10. Hal ini karena saya perlu mencoba menerapkan teori yang saya pelajari di kelas secara nyata di kelas kepada siswa-siswa.  Saya masih perlu banyak membaca teori pendidikan lainnya serta berlatih praktik mengajar lebih banyak lagi. Maka dari itu, hal-hal yang perlu saya siapkan adalah lebih banyak belajar mengenai konsep-konsep teori pendidikan serta berdiskusi dengan rekan. Selain itu, hal yang sangat penting adalah berlatih mengajar kepada siswa secara langsung untuk menerapkan hal-hal yang sudah saya pelajar di kelas. 


Jumat, 06 Oktober 2023

Koneksi Antar Materi : TOPIK 1 MK Filosofi Pendidikan Indonesia

 Refleksi : Mengapa saya ingin menjadi guru?


Nama saya Nuril Azizah. Saya sebelumnya pernah menjadi guru di salah satu sekolah dasar di domisili saya. Kendati demikian, mengingat saya tidak pernah mengenyam pendidikan guru sehingga saya tidak pernah punya dasar kemampuan mengajar. Selama ini, penyelenggaraan kegiatan belajar yang saya laksanakan adalah berdasarkan pengalaman pribadi dan belajar secara otodidak kepada teman-teman guru di sekolah. Saya pernah berputus asa untuk menjadi guru karena banyaknya hal yang harus saya pelajari, mulai dari pembuatan RPP, media ajar, promes, prota dan lain sebagainya. Namun, saya akhirnya berkesempatan untuk menempuh program profesi guru prajabatan pada tahun 2023. Melalui kegiatan PPG ini ada banyak mata kuliah baru dan asing yang saya tempuh, salah satunya adalah mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia. 

Mata kuliah Filosofi Pendidikan adalah salah satu mata kuliah di PPG Prajabatan tahun 2023. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang membahas tentang filosofi pendidikan di Indonesia. Hal ini mencangkup bagaimana sudut pandang guru maupun murid terhadap penyelenggaraan pendidikan, khususnya di Indonesia. Dalam mata kuliah ini juga mencangkup pandangan filosofis pendidikan sejak zaman kolonialisme hingga hari ini. Banyak hal dan pengalaman baru yang saya dapatkan setelah menempuh mata kuliah ini, khususnya pada topik 1. 

Salah satu hal yang saya pelajari dari mata kuliah ini adalah saya mendapatkan sudut pandang baru mengenai motivasi saya menjadi seorang guru. Pada hari pertama perkuliahan, dosen meminta saya untuk bertanya pada diri sendiri “Mengapa saya disini? Apa yang saya inginkan dari kegiatan ini?”.  Saya tidak bisa menjawab. Saya hanya menjawab, “karena dukungan orang tua”. 


                                              

                                                    

Hari pertama kuliah, 18 September 2023. 18.30 Mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia

Pada pertemuan selanjutnya, saya mulai belajar tentang filosofi pendidikan Indonesia sejak zaman kolonialisme. Banyak sekali hal yang berbeda mengenai pendidikan kita, kebebasan belajar adalah hal yang sangat diimpikan oleh rakyat Indonesia. Namun hal ini menjadi hal sangat mahal dan hanya boleh diampu oleh para bangsawan dan priyayi. Hari ini, pendidikan sudah terbuka bagi setiap orang di Indonesia. Namun, praktik pendidikan yang terjadi di kelas masih banyak terbelenggu dengan sistem-sistem kolonialisme. Salah satunya adalah sistem intelektualis yang diturunkan dari Kolonialisme Belanda. Intelektualis adalah sistem pendidikan yang mengutamakan nilai untuk lulus ujian. Pada teks pidato KH Dewantara tertulis sebagai berikut 

“Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras dalam tuntutan-tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya; sebaliknya, mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam rapor sekolah-nya atau untuk dapat ijazah.”


Padahal sistem ini sangat tidak cocok dengan karakter budaya Bangsa Indonesia. Sistem pendidikan ini tidak mengajarkan budaya dan budi pekerti yang membuat kita semangat untuk belajar dengan tentram. 


Hal ini sangat mengusik saya, karena harus saya akui bahwa saya pun termasuk siswa yang pernah juga menganut sistem intelektualis ini selama masa sekolah dulu. Hal ini juga membuat sedih, karena jiwa intelektualis ini kadang masih saya berlakukan di kelas yang saya ampu. Dari pemahaman itu, akhirnya menjadi motivasi saya untuk belajar lebih banyak tentang hakikat mengajar yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Saya ingin menjadi guru yang baik, yang bisa menuntun siswa menemukan kodrat alamnya. 


Selain itu, melalui mata kuliah ini ada pengalaman luar biasa yang saya dapatkan. Salah satunya adalah kesempatan untuk berdiskusi dan bertukar pandangan dengan calon-calon guru lainnya. Ada satu hal yang saya ingat sampai hari ini adalah sudut pandang dari teman saya mengenai guru. “Guru adalah pekerjaan yang melahirkan pekerjaan lainnya”  dan “Guru adalah pekerjaan yang menciptakan diri manusia” . Serta banyak pendapat-pendapat menarik lainnya. Bertukar pikiran ini adalah salah satu hal luar biasa bagi saya. 


Setelah mempelajari mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia, khususnya topik satu mengenai perjalanan pendidikan di Indonesia. Singkatnya saya menjadi belajar mengenai kodrat alam dan kodrat zaman. Seorang guru harus mampu menuntun siswa untuk belajar sesuai kodrat alamnya (potensi masing-masing) dan kodrat zaman (pada zaman ini adalah teknologi). Jika nanti saya menjadi guru, saya ingin berusaha sebaik mungkin untuk menerapkan hal ini. Dengan demikian, banyak hal yang masih harus saya pelajar dan melatih diri saya untuk menjadi guru yang sesuai dengan cita-cita pendidikan Indonesia.

Oleh : Nuril Azizah, S.Si.

         Penempuh mata kuliah filosofi pendidikan PPG Prajabatan Program studi IPA Gelombang 1, tahun 2023.


Rabu, 27 September 2023

KATANYA MERDEKA

  

Apasih kurikulum merdeka itu?


Disclaimer : Halaman ini hanya berisi pertanyaan-pertanyaan besar yang masih saya coba temukan jawabannya. Jika diantara pembaca mengetahui jawabannya, kindly comment below ya gess

Bagaimana sih kurikulum ini membuat pendidikan di Indonesia menjadi merdeka?

Jika ada kurikulum merdeka, apa kurikulum K-13 sebelumnya merupakan kurikulum yang memuat sistem pendidikan yang tidak merdeka? lalu apa point utama perbedaan antara kurikulum merdeka dengan kurikulum K-13 atau dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya yang lain?

Kira-kira apakah kurikulum merdeka yang sudah sedang dicanangkan saat ini merupakan kurikulum yang masih perlu di revisi? jika iya, maka bagian mana yang perlu di revisi?

Di Indonesia kita tau tentang sekolah alam pertama yang di dirikan di Yogyakarta, atau lebih akrabnya dikenal sebagai Sekolah Alam. Sepanjag yang saya tau melalui sumber bacaan dan informan pribadi, di SALAM sudah menerapkan merdeka belajar yang membebaskan siswa untuk belajar apa saja. Tidak ada kurikulum yang membuat siswa yang memiliki potensi di bidang psikomotorik harus belajar matematika atau bahasa inggris atau sebaliknya. Apakah itu merdeka belajar?

Terakhir, Apasih esensi dari merdeka belajar itu sendiri?

 

TUGAS : KOLABORASI PERSPEKTIF SOSIO KULTURAL

  

 PERSPEKTIF SOSIO KULTURAL




 

Kali ini tentang tugas dari kelas Perspektif sosio kultural. Kami mendapatkan tugas untuk berkolaborasi mendiskusikan 5 video tentang pendidikan yang sudah disediakan di LMS. Berikut link video yang menjadi bagian yang aku tonton : 

(https://youtu.be/CdI7-WOMy78?feature=shared). 

 

Sebenarnya saya sangat tertarik dengan dunia pendidikan, dan sangat tertarik untuk bisa bergabung dalam kegiatan Indonesia Mengajar. Sewaktu masih mahasiswa baru pada tahun 2016, saya pernah mengikuti program Unej Mengajar. Konsep yang dianut mirip dengan konsep Indonesia Mengajar, hanya saja lingkup sekolah yang menjadi sekolah tujuan hanya sekitar Jember. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya saya tidak bisa melanjutkan bergabung dengan program Unej Mengajar tersebut. 

Keinginan terpendam saya untuk bergabung dalam kegiatan relawan mengajar di pelosok tidak pernah hilang, namun juga tidak pernah saya usahakan. Saya bahkan tidak pernah terpikir untuk menonton video yang menggambarkan kegiatan pendidikan di pelosok negeri. Kemudian hari ini, melalui program PPG ini saya diberi tugas untuk menonton video yang rupanya adalah video tentang kilas balik serta refleksi salah seorang pengajar muda bernama Trisa Melati yang menjadi pengajar muda di salah satu desa terpencil di pedalaman Sumatra Selatan. Terima kasih PPG sudah memberikan saya kesempatan dan jalan untuk bisa menonton video ini. Pada dasarnya video ini dapat di tonton oleh siapa saja, tidak harus mahasiswa PPG. Namun, perlu saya akui bahwa saya tipe orang yang tidak terlalu gemar menonton youtube, sehingga tanpa adanya dorongan eksternal saya umumnya tidak bisa berlama-lama menonton video berdurasi lama. 

 

Saya diberi tugas untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan PPG saya untuk mendiskusikan beberapa video, salah satunya adalah video ini. Terdapat hal-hal yang perlu dibahas dalam diskusi ini, diantaranya adalah sebagai berikut. 

 

Diskusikan dalam kelompok pertanyaan berikut :

Apa faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik penting yang mempengaruhi pendidikan dan pembelajaran di kelima daerah tersebut? Apa yang mirip atau sama, dan apa yang berbeda?

Pada video ke -3 

faktor sosial, budaya dan ekonomi merupakan hal yang sangat memperngaruhi pendidikan di daerah pedalaman Sumatra selatan. 

- Sosial : secara geografis lokasi mereka jauh dari desa lainnya sehingga akses untuk para guru untuk datang ke lokasi tersebut menjadi sangat terbatas. Hal ini menyebabkan sedikitnya SDM guru yang bersedia untuk menjadi tenaga pendidik di sekolah tersebut. Namun, aspek sosial dari sisi peserta didik menggambarkan semangat belajar yang tinggi walaupun dengan keterbatasan tenaga pendidik. 

-Budaya : Dalam contoh yang terjadi di SDN Rambang di Talang Airguci di Sumatera Selatan, mereka memiliki budaya yang sangat unik. Dalam kebiasaan sehari-hari ataupun dalam acara tertentu, masyarakatnya suka berpantun. Hal ini dilakukan oleh orang-orang dari berbagai kalangan, sehingga hal ini juga menjadi biasa bagi anak-anak di daerah tersebut. Hal ini tercermin juga dalam kegiatan belajar mengajar mereka di sekolah. Seringkali dalam proses KBM, baik guru maupun murid menggunakan pantun untuk mendukung capaian hasil belajar. 

-Ekonomi : Hal ini merupakan hal yang sangta mendasar dan sangat mempengaruhi proses belajar di sekolah. Terbatasnya finansial untuk biaya operasional sekolah menyebabkan mereka harus membagi 1 ruangan kelas menjadi 3 sekat, yang mana masing-masing sekat akan di isi oleh 2 tingkat kelas. Praktis, satu kelas akan terdiri dari 6 tingkat kelas berbeda. Hal ini sangat berpengaruh terhadap konduktifitas proses belajar. 

 

  

Bagaimana faktor-faktor tersebut dipertimbangkan dan kemudian diterapkan ke dalam strategi pembelajaran oleh pengajar yang ada di dalam video tersebut?

Faktor yang dipertimbangkan oleh pengajar salah satunya adalah faktor ekonomi.

Karena taraf ekonomi kebanyakan masyarakat setempat adalah menengah kebawah menyebabkan siswa tidak mampu untuk membeli buku ajar. Buku ajar hanya dipegang oleh wali kelas saja. Hal ini menjadikan proses belajar menjadi lebih sulit. Faktor ini menjadi pertimbangan bagi guru untuk menerapkan belajar di alam langsung, agar walaupun siswa tidak dapat ilmu dari buku yang notabennya terdapat banyak gambar ilustrasi namun siswa dapat langsung mempelajarinya di alam. 

 

 Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, apa yang akan Anda lakukan selain yang sudah dilakukan pengajar tersebut?

 

Apakah dengan mempelajari faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik penting yang mempengaruhi pendidikan dan pembelajaran mampu mengembangkan diri Anda untuk menjadi pendidik yang baik?

 

Ya. dengan mempeljari faktor sosial buday, ekonomi dan politik dapat sangat membantu saya dalam mengembangkan diri saya sebagai pendidik yang baik. 

 


KILAS BALIK KISAH PPG

 

Rekam Kisah

 




Halo, Namaku Nuril Azizah. Biasanya aku dipanggil Nuril di rumah, tapi semasa S1 aku dipanggil Azizah karena ada teman sekelasku juga memiliki nama yang sama denganku yaitu Nuril. Selama masa S2 aku akhirnya dipanggil Nuril karena sudah tidak ada lagi yang bernama sama. Kemudian sekarang aku sedang mengikuti Program Profesi Guru atau seterusnya akan disingkat PPG. Ku kira di kuliah PPG ini aku akan dipanggi Nuril tapi ternyata ada mahasiswi lain yang bahkan memiliki nama persis dengan namaku yaitu Nuril Azizah. Akhirnya aku memutuskan untuk dipanggil sebagai Azizah lagi. Tidak apa-apa, nama ini bagus. Aku suka.

Mengikuti PPG ini adalah sebuah keputusan besar dalam hidupku. Aku tidak pernah benar-benar ingin ikut program ini. Keputusanku mengikuti ini adalah karena iming-iming setelah lulus akan mudah mengikuti P3K. Namun hati kecilku masih menolak. Aku tidak ingin menjadi guru. Aku selalu berpikir bahwa seharusnya aku bisa melakukan hal yang lebih besar dari pada menjadi guru di sekolah. Aku seperti menolak takdir. Namun, sekeras apapun aku menolak takdir ini aku tetap di sini.

Jika aku urai kembali bagaiman proses pendaftaran PPG ku, seharusnya mungkin aku tidak diterima. Dari ribuah peserta yang mendaftar aku bertanya-tanya kenapa aku diterima? bagaimana tidak, dalam seleksi PPG ini ada 3 tahap. Tahap pertama aku selesaikan dengan baik, meskipun sedikit hampir mencapai Due date pengumpulan. 

Malam itu, malam terakhir membayar pendaftaran PPG sebesar 200 ribu. Aku tidak tau bahwa malam itu malam terakhir, dan aku baru menyadarinya jam 8 malam. Sedangkan proses pemabayaran baru dapat dilakukan jika aku menyelesaikan semua essai yang menjadi persyaratan masuk tahap 1. Pada waktu itu aku baru menyelesaikan essai sebanyak 2 nomer dari 6. Akhirnya aku mengebut menulis essai dan selesai jam 11 malam. Pembayaran terakhir jam 12 malam. Pikirku ah gampang, bisa pakai m-banking. Rupanya ketika aku coba pakai mbanking,error.  Aku meminta bantuan pada temanku Mbak Laily dan masih tetap tidak bisa juga. Akhirnya jam setengah 12 malam aku diantar bapakku pergi ke ATM. Setelah sampai di ATM, aku ternyata lupa membawa ATM nya, haduuuuhh. Aku kembali ke rumah untuk mengambil ATM, waktu itu sudah jam 11.45 malam. Aku coba transfer melalui akun bank ku dan rupanya eror juga. Di menit-menit terakhir rupanya Mbak Laily masih berusaha membantuku membayar melalui akun mbanking miliknya. Dan akhirnya 11.50 malam pembayaran berhasil, fyuuhhhhh.

 

Aku akhirnya lolos tahap 1. Aku akan melanjutkan ke tahap 2 yaitu tes substantif. Terdapat 3 macam soal, yaitu soal IPA yang mana soal ini akan terdiri dari soal fisika, kimia dan biologi (haduuhhh aku mana paham fisika dan kimia). Selain itu juga ada soal numerasi dan literasi. Pada waktu itu sisa 4 hari untuk mempersiapkan tes. Aku belajar semampuku melalui soal-soal yang dibahas digrup telegram. Ketika hari tes, ternyata soal-soalnya syuuusahhh cekilaa gesssss. Mungkin 50% soal substantif aku bisa menjawab dengan sungguh-sungguh dan sisanya ngarang. Kalau soal literasi sihh easy  hahaha, tapi soal numerasij jangan ditanya, dari 15 soal mungkin aku hanya berhasil menghitung 3 soal dan itupun kalau benar. hahah

Aku sudah optimis tidak lolos, tapi ternyata ketika pengumuman tahap 2, AKU LOLOS LAGI, KOK BISAAA LOHHH???????????/

Tes Tahap 3. Wawancara.

Waktu itu aku benar-benar tidak ingin lolos. benar-benar tidak ingin lolos, sungguh. Aku berharap aku bisa menjawab pertanyaan penanya dengan buruk. Aku sudah mempersiapkan jawaban-jawaban terburukku. 

Hari H wawancara. Aku ingin masuk google meet telat, namun naluri tepat waktuku meronta-ronta. Akhirnya aku tidak jadi datang telat. 

Saat ditanya alasanku kenapa ingin menjadi guru aku menjawab sebenarnya aku tidak ingin mejadi guru, namun ternyata saya sudah menjadi guru sekarang di salah satu SD swasta di sini. Jadi aku mengikuti alur saja dan tujuan utama mengikuti PPG hanya untuk jenjang karir. 

Selain itu aku juga menjabarkan banyak kelemahanku jika mengikuti program PPG ini. Kupikir jawaban itu sudah cukup jelek untuk bisa lolos ke tahap berikutnya. 

Hari pengumuman tahap 3 bersamaan dengan aku dinyatakan lolos sebagai pengajar di Ganesha Operation. AKU GALAUUUUU. BINGUNG MAU PILIH MANA.

Aku takut tidak bisa melakukan keduanya, PPG dan GO dengan maksimal karena lokasi kerjanya berbeda kota. Hari itu 31 Juli aku harus tanda tangan kontrak dan akan pengumuman PPG.

Jam 4 sore akhirnya aku memtuskan untuk tanda tangan kontrak di GO dengan optimisme tinggi bahwa aku tidak akan diterima di PPG (yaa mengingat jawabanku di wawancara sudah patut untuk tidak diterima). 

Ternyata pengumuman ditunda, aku semakin deg degan.

Pengumuman PPG baru terlaksana keesokan harinya. Aku dengan perlahan membuka laman SIMPKB sambil berdoa bahwa aku tidak lolos. 

klik klik... laman terbuka. Halaman 1 tertulis Selamat anda dinyatakan lolos tahap 1 dan berhak melanjutkan ke tahap 2 untuk mengikuti tes substantif.  huhhhhhhhhh bikin kaget aja.

aku klik lagi dan ada pengumuman lolos tahap 2. Aku ragu untuk mengklik selanjutya, untuk melihat pengumuman tahap 3. Setelah mengambil nafas panjang, aku beranikan klik selanjutnya. 

Klik...

 

Dan ya begitulah, akhirnya aku disini. Duduk di kosan sendirian sambil mengerjakan tugas-tugas PPG yang tiada batas.

Sekian :)

 


KILAS BALIK

 

 Profesi pendidikan guru (PPG)





26.99.2023

The first lecture has already started at 18.09.23

Hii my dearest self. I am  now joining a lecture that I have ever imagined not to do it for the whole time of my life. Yes, PPG, Pendidikan Profesi Guru. It is such an extensive class for some people who intended to be a teacher.

Wait....

Do I really want to be a teacher? I have told myself not to be a teacher. However, I am already a teacher. Then why I deny this path of life.

I keep denying that I am a teacher, even that I am now doing it.

Hey, Nuril. Let's do it. Let's do the best as you can.

Do you remember, it was about 9 years ago you wrote in your diary book that you really wanted to be a teacher. Biology teacher. Then why it stops?

Because I think that becoming a teacher is not that cool. I want to be a lecturer now. 

I know my dreams was to be a biology teacher, however, time by time increase my knowledge and lili bit change my dream. Now I want to be a lecturer.

Then why do you join PPG? 

Idk why, I feel like the destiny guides me to be here. 


Aku pikir PPG akan sulit, dan ternyata memang sulit. Tapi diantara banyak kesulitan itu aku menyukainya. Aku menyukai proses belajarnya, proses keingin tahuanku yang besar akan cara-cara mengajar. 

Selama aku mengajar, baik di ALIFYA, SMP 1 dan di GO aku tidak pernah punya bekal akademis tentang cara-cara mengajar. Lewat PPG ini saya bertemu dengan banyak dosen-dosen yang memberikan saya pandangan-pandangan baru tentang makna seorang guru, makna pendidikan bagi para murid, makna proses-proses pendidikan bagi bangsa Indonesia dan lain-lain. Hal terpenting yang saya sangat syukuri dari proses belajar ini adalah saya bisa bertemu dengan para calon guru lainnya. Mempelajari bagaimana cara mereka belajar dan mengajar, memahami sudut pandang guru-guru lain terhdap pendidikan dan peserta didik membuat saya merasa... "Ohh ternyata ini yaa yang dipikirakan orang lain. Ohh ternyata bukan saya saja yaa yang berpikiran seperti ini. Oh ternyata pikiran kita sebagai seorang guru bisa berbeda yaa "dan pikiran-pikiran random laiinya.

Aku tau bahwa mengikuti PPG tidak pernah ada dalam rangkaian wish list ku yang kutulis selama ini. Tapi aku sudah di sini, mari kita belajar yaa sayangku. 

KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK DALAM PEMENUHAN TARGET KURIKULUM MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK DALAM PEMENUHAN TARGET KURIKULUM MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh : Nuril Azizah Pendidikan merupakan se...